Puncak Kemarau, Mengapa Wilayah Gunung Lebih Dingin sa「Weide app」mpai Muncul Embun Es?

  • 时间:
  • 浏览:0

BWeide appaca juga: Bagaimana Embun Es di Dieng Bisa Terbentuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Dr Weide appindra Gustari, ST., Weide appm.Si., selaku Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG menyebutkan bahwa dinginnya suhu di pegunungan pada musim kemarau diakibatkan angin monsun Australia (angin timuran).

KOMPAS.com – Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, kembali viral karena fenomena embun es (frost) yang kembali muncul.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

“Warna cokelat ini artinya dry atau kering. Nah, inilah fenomena dry intrusion yang mengakibatkan kita sering kedinginan pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau,” tutur Agie Wandala, Kepala Sub Bidang Iklim dan Cuaca BMKG kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

“Jadi selama musim kemarau akan terjadi kondisi-kondisi di mana suhu pada pagi hari akan terasa dingin. Tidak hanya di Jakarta atau Bandung tapi juga sebagian besar pulau jawa,” tutur Agie.

Gambar peta Indonesia lewat citra satelit di bawah ini menunjukkan Oulau Jawa dikelilingi oleh warna cokelat.

Suhu terdingin tercatat di Tretes yaitu 12,6 derajat Celcius, dan Ruteng yaitu 14,6 derajat Celcius.

Selain angin monsun Australia, suhu dingin pada malam hingga dini hari di berbagai wilayah Indonesia pada puncak musim kemarau juga dipengaruhi oleh dry intrusion atau intrusi udara kering.

Pada puncak musim kemarau seperti ini, suhu di wilayah pegunungan memang terasa lebih dingin dari biasanya. Tahun lalu, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena embun es juga terjadi di Semeru, Bromo, dan Gunung Gede tepatnya pada 17 Juli 2019.

Baca juga: Suhu Dingin sampai September, Bagaimana Cara agar Tidak Pilek?

Embun es di kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (26/7/2020) pagi.

Selain itu, lanjut ia, kondisi langit cerah tanpa tutupan awan di Jawa saat ini juga dapat memaksimalkan pancaran gelombang Bumi pada malam hari. Hal itu menyebabkan suhu di permukaan Bumi relatif akan lebih cepat turun dan lebih dingin dari biasanya pada malam hari.

Memasuki puncak musim kemarau, setiap tahun wilayah Indonesia bagian selatan memang dilaporkan merasakan suhu lebih dingin pada malam hari, terutama saat langit cerah.

“Disebabkan oleh monsun Australia (angin timuran) yang kering dan bertiup lebih kuat melewati lautan yang juga dingin,” tutur Indra kepada Kompas.com, Minggu (16/7/2020).